Senin, 11 November 2013
Mata Panda
Malam ini aku dan kawanku melakukan percakapan singkat:
Kawan: Tidur luk!
Luki: ha?! emang kelihatan ya?
Kawan: Iya, kelihatan kurang tidur.
Luki: Ah *senyum manis* gak ah biasa aja :D
Ada yang bilang wajah yang 'kusut', mata yang sepeti 'mata panda' (ada bekas seperti cahaya lampu minyak yang membekas di langit-langit rumah melingkari mata), dan mungkin sikap yang 'uring-uringan' bisa mengindikasikan kita yang kurang tidur. Aku sedikit sepakat dengan hal ini karena beberapa kali ku bercermin sekarang sering sekali aku lihat mataku seperti mata panda, menghitam tapi lucu n imut, hehehe (narsis coy).
Ya begitulah kehidupan, kadang kita sangat dituntut untuk melakukan banyak hal, Bapak Ary Sudewo mengatakan dalam bukunya "Characrter Building" bahwa kapasitas adalah daya tampung seseorang dalam menyimpan memori, mengemban amanah, dsb. Beliau juga mengatakan bahwa setiap manusia memiliki kapasitas yang berlainan alias tidak sama satu dengan yang lain, ada yang memiliki kapasitas besar dan kecil. Akan tetapi kapasitas kita bisa banget tuk ditingkatkan, itu bergantung dengan kemauan.
Terima kasih untuk para sahabat ku yang selalu memberikan perhatiannya ketika aku kurang istirahat dan sebagainya, yang mana ragaku atau corong ekspresiku, yakni wajah tak bisa berbohong bahwa ia menginginkan waktu untuk istirahat. hehe, tapi aku mohon izin kepada ragaku, aku ingin kapasistas diri ini mengingkat seiring berkurangnya usiaku, berjalannya waktu, maka wahai raga izinkanlah aku meng-urgrade dirimu, hehe.
Konbanwa :D, moga bermanfaat ya :")
Label:
izin,
kapasistas,
kawan,
panda,
terima kasih,
tidur,
waktu
Minggu, 10 November 2013
Bangkitkan cita-cita yang tertunda
Setiap makhluk pasti diciptakan dan dimatikan oleh Penciptanya, bukan begitu kawan? Ada makhluk yang diberikan nafas ada pula yang tidak, ada makhluk yang diberikan wujud ada pula yang tidak. Nah! Cita-cita kita masuk katagori yang mana?
Setiap kita, pasti punya cita-cita, bahkan orang tua dan guru-guru kita (semoga mereka semua Tuhan berkahi dengan kenikmatan, kebahagiaan, keberkahan, dan keselamatan) sudah mengajari kita untuk memiliki cita-cita sejak kecil. Dari menjadi polisi sampai dokter, animator sampai tentara. Tak ada satupun yang bercita-cita ingin menjadi pencuri, koruptor, apalagi mafia. Ada yang berdaya khayal tinggi dengan cita-citanya yang ingin menjadi super hero: gatot kaca, batman, superman, spiderman, dan kawan-kawannya.
Menurutku, cita-cita termasuk makhluk kawan! Dia bisa diciptakan dan juga dimatikan. Bagi yang telah yakin dengan cita-citanya, artinya ia sudah menciptakan makhluk yang namanya cita-cita, serta siap mewujudkannya menjadi kenyataan. Dan dia yang sedang putus asa dengan cita-citanya, artinya ia sedang membunuh atau mematikan makhluk yang Tuhan beri nama cita-cita. Kapanpun kita bisa menciptakan dan mematikan cita-cita kita, dan kadang pula makhluk bernama waktu pun dapat 'mengambil nyawa' cita-cita kita saat sang waktu tahu dia ditelantarkan begitu saja oleh pemilik cita-cita.
Aku sarankan, makhlukmu (cita-cita) yang sudah dimatikan baik oleh dirimu sendiri atau oleh waktu, segera kau bangkitkan lagi. Memang bisa? Sangat bisa kawan! Cukup dengan berdiam sejenak di atas meja kerjamu, pejamkan mata, ingat kembali dia, yakini dalam hati paling dalam, dan ikuti ucapan ku "Aku akan membangkitkanmu wahai cita-citaku, dan akan aku pastikan kamu bahagia hidup bersamaku selamnya"
#BelajarLagi
Label:
aku,
bangkit,
cita,
dream,
kamu,
kita semua,
make it happen
Senin, 28 Mei 2012
KEHILANGAN SATU
Apa yang membuatmu merasa rugi atas kehilangan yang terjadi padamu? karena jumlahnya? karena harganya? karena waktu yang telah kamu lalui bersama? atau karena ada hubungan dengannya?
Hari ini ada satu orang korban tak bersalah yang menjemput ajalnya ketika selesai meninton pertandingan olahraga persatuan manusia se-dunia, sepak bola. Jakarta dan Indonesia berdua karena gugurnya satu orang itu adalah karena belia adalah WNI, beliau tidak terlibat dalam perkara, dan beliau menempu ajal disebabkan oleh kericuhan hal yang "kekanak-kanakan" merebut gengsi wilayah dan siapa yang paling berkuasa. Kekesalan mungkin diakibatkan karena skor akhir adalah 2-2.
Hingga bukan satu yang tabu lagi ketika mereka berseteru. Ya, Allah semudah itukah manusia membinasakan manusia? Tanpa salah, tanpa permohonan ampun? Saya sangat merasa kehilangan, sekalipun saya buka darah dagingnya, namun cara mereke memperlakukan orang yang harusnya ia hormati, berjasa, dan tidak terlibat konflik, dengan seenaknya, semaunya.
Semoga ada jalan keluar bagi keluarga yang ditinggalkan, ada rezeki yang berkah atas sepeninggalan tulang punggung keluarga, dan generasi penerusnya dapat mendapatkan masa depan yang layak dan cerah. bagi sekalian yang lain, yang tak bersalah, tak berdosa, mudah-mudahan cermin dapat menyadarkan dengan melihat betapa kecilnya kita dihadapan Yang Maha Besar, yang hati-hati kita berada di tangan-Nya.
Hari ini ada satu orang korban tak bersalah yang menjemput ajalnya ketika selesai meninton pertandingan olahraga persatuan manusia se-dunia, sepak bola. Jakarta dan Indonesia berdua karena gugurnya satu orang itu adalah karena belia adalah WNI, beliau tidak terlibat dalam perkara, dan beliau menempu ajal disebabkan oleh kericuhan hal yang "kekanak-kanakan" merebut gengsi wilayah dan siapa yang paling berkuasa. Kekesalan mungkin diakibatkan karena skor akhir adalah 2-2.
Hingga bukan satu yang tabu lagi ketika mereka berseteru. Ya, Allah semudah itukah manusia membinasakan manusia? Tanpa salah, tanpa permohonan ampun? Saya sangat merasa kehilangan, sekalipun saya buka darah dagingnya, namun cara mereke memperlakukan orang yang harusnya ia hormati, berjasa, dan tidak terlibat konflik, dengan seenaknya, semaunya.
Semoga ada jalan keluar bagi keluarga yang ditinggalkan, ada rezeki yang berkah atas sepeninggalan tulang punggung keluarga, dan generasi penerusnya dapat mendapatkan masa depan yang layak dan cerah. bagi sekalian yang lain, yang tak bersalah, tak berdosa, mudah-mudahan cermin dapat menyadarkan dengan melihat betapa kecilnya kita dihadapan Yang Maha Besar, yang hati-hati kita berada di tangan-Nya.
Minggu, 27 Mei 2012
TERLIHAT KECIL
Dia
adalah yang kehadirannya tidak diinginkan. Dia juga tidak diinginkan untuk
tumbuh menghiasi lahan-lahan yang ada. Dan, para pembudidaya menyebutnya GULMA.
Belajarlah
dari GULMA. Seorang pembudidaya pemula akan mencabutnya dari lahan garapannya
saat ia tumbuh, bahkan baru saja tumbuh. Dengan maksud menghindari kerugian
produksi yang ia akibatkan. GULMA tidak akan pernah menyerah untuk
mempertahankan dirinya untuk dapat terus hidup seperti apapun tantangannya,
baik kekeringan, cekaman suhu, maupun pengolahan lahan, yang dengan itu dapat
mencabik-cabik “sakit” tumbuhnya.
Belajarlah
dari GULMA. Ia akan terus bertahan dalam segala keterbatasan. Tidak memiliki
rumah bukan menjadi alasannya untuk tidak dapat terus hidup dan menikmatinya.
Tidak ada yang peduli terhadapnya pun tidak menjadikannya untuk tidak terus
mencapai tujuan dan cita-cita hidupnya. Karena satu yang menjadi prinsipnya,
GULMA selalu yakin, bahwa ia punya Allah yang maha memperhatikan segala
sesuatu, sesuatu yang kecil hingga yang besar.
Dan
belajarlah dari GULMA. GULMA itu kecil, tertanam di dalam tanah yang dalam.
Akarnya mungkin tidak sedalam tanamam budidaya yang mendampingi hidupnya. Namun
GULMA tidak pernah angkuh, tetap "terlihat kecil" dihadapan Tuhan-Nya. Namun
akarnya besar menancap teguh sebesar keyakinannya untuk terus berjuang bertahan
hidup.
Bahkan
sang pembudidaya pemula pun sering kali lupa bahwa GULMA juga makhluk hidup
yang merupakan ciptaan Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang yang harus
kita sayangi.
Belajarlah dari GULMA
DENGARKAN JUGA ORANG LAIN
Suara-suara haruslah kita dengarkan dengan baik.Suara yang datang pelan dan yang datang dengan keras.Keterbatasan manusia tidak dapat disalahkan, karena manusia memang tak ada yang sempurna, tugas kita adalah menjalankan semampu kita, tanpa paksaan dari siapapun.Tugas-tugas memang sangat banyak, namun jika ada kesabaran untuk menunaikannya satu-persatu maka dengan sendirinya itu akan selesai.
Setiap
kita memang harus menyediakan tempat di hati untuk dicaci, dihardik, dihina,
dan mungkin dimusuhi. Agar kita tidak sombong dalam bersikap dan dapat
bijaksana dalam memutuskan hal yang penting. Sekali lagi, tugas kita adalah
menjalankan tugas-tugas itu dengan tulus dan sungguh-sungguh. Dalam memperbaiki
hubungan, menyatukan tujuan, membawa suasana, menginformasikan sesuatu,
memutuskan hal besar, mendekati satu-persatu, mencontohkan perilaku yang baik,
mempertahankan identitas, dan mewarnai setiap segi kehidupan dengan warna yang
baik, yang itu semua harus kita lakukan dengan penuh perhitungan, penuh kesabarahan,
dan penuh keikhlasan. Agar mereka tahu bagaimana manisnya pengorbanan dan
harunya keberhasilan.
Sekalian, Kita semua hanya manusia
biasa yang tidak pernah mengharapkan beban ini terpikulkan pada pundak ini.
Sekalian, hakikatnya kita semua bersaudara bukan bermusuhan. Terkadang sesama
saudarapun masih ada kata-kata benci ataupun firasat tidak baik, apalagi posisi
musuh yang kita sandang. Jangan jadikan manusia seperti “dewa”, yang hanya
dapat memberi dan tidak dapat menerima. Tapi jadikan kami sebagai sahabat, yang
akan selalu ada untukmu walau saat itu kami tak ada disana.
Dengarkan juga orang lain
Langganan:
Postingan (Atom)


.jpg)