Selasa, 07 Januari 2014

Today is a perfect day! :)



Kadang aku suka berandai-andai, andaikan semua orang dapat ku kendalikan. Setiap gerak manusia yang berinteraksi denganku dapat ku kendalikan. Pasti kita semua akan baik-baik saja, damai, saling berkasih sayang, tak ada kriminalitas, dan bisa bekerjasama tanpa harus ada rasa tersaingi atau tersingkirkan atas kebisaan orang lain. Ya lagi-lagi aku harus dibangunkan dari dunia hanya itu, terima kasih tekah membangunkanku kawan, hehe. Itu semu sekali lagi hanya andai-andaiku saja, tidak usah dihiraukan ya.
Entah ini akan nyambung atau tidak dengan pernyataan tanpa kesimpulan di atas atau tidak. Aku serahkan padamu para pembaca yang menafsirkan sendiri. Boleh lah tafsirannya dituliskan pada kolom komentar di bawah nanti ya, hehe. Aku hanya ini berkata “Today is a perfect day!”, kalau bisa berteriak maka ku akan berteriak atas kalimat ku tadi. Ya, aku hanya ingin bersyukur atas apa yang Tuhan berikan padaku sampai hari ini J. Aku bersyukur atas semuanya, karena kita tak bisa tahu apa yang sebenarnya sedang direncanakan Tuhan untuk kita, kawan. Kadang kita berpikir ko kita tak bisa menjadi si kaya, atau ko kita tidak bisa mendaptkan apa yang dipunyai si kaya itu? Iya kan kawan? Akses informasi yang kontinu dan luar; uang jajan yang berlimpah; jalan-jalan diliburan yang sungguh tak bisa ku bayangkan; punya banyak teman yang bisa membawamu ke mana saja; kasing saynang luar biasa dari ayah ibu mereka; sekolah bagus sebagus kamar2 hotel yang sering kali ku bayangkan dalam mimpi; naik pesawat bersma keluarga; dan keisengan2 batin yang kadang tak sengaja kita ucapkan pelan. Ya kan kawan? Tapi aku akan menghilangkan kebiasaan itu mulai hari ini, kenapa? Ya, karena aku punya kalimat baru yang lebih suka ku ucapkan, “Yey, today is a perfect day!”. Dengan kalimat sederhana itu aku merasa Tuhan sangat adil kepada ku dan kepada kita semua. Dengan kalimat pendek itu aku merasa kasih sayang Tuhan sangat besar kepadaku yang datang bersama dengan kebahagiaan, kesedihan, penderitaan, kesenangan, yang Dia berikan kepadak hari ini. dengan kalimat singkat itu aku pun jadi tahu bahwa setiap yang Tuhan berikan atas kita itu adalah rencana-Nya yang terbaik untuk kita semua. Karena rencana-Nya adalah yang terbaik, tak pernah ada Tuhan akan berbuat jahat pada kita, kawan. Jadi aku harus simpulkan bahwa mulai hari ini benar-benarlah berpikir bersih, dengan itu kamu akan menemukan kebenaran yang sebenar-benarnya, bahwa lebih banyak waktu, peristiwa, dan kejadian yang Tuhan berikan untuk kita bersyukur ketimbang keluh kesah atau iri-irian semata kepada orang lain.
Selama sinar matahari yang diterima oleh semua manusia di dunia ini masih sama, artinya selama itu pula keadilan Tuhan itu tidak akan berubah. Bahkan Tuha juga punya sifat kekal abadi, jadi keadilan Tuhan tidak akan hilang sampai matahari itu dimatikan oleh-Nya dan manusia akan mendapat pengganti sinar-Nya yang lebih hangat dan menyejukkan kelak.
Selamat bersyukur atas diri kita J

Sebuah definisi

Kata orang, pengalaman adalah guru yang paling berharga. Ada benarnya juga ku rasa. Tapi buatku, adanya guru adalah syarat mutlak menuntut ilmu. Hal pertama yang Tuhan perintahkan kepada seklian manusia adalah untuk menuntut ilmu. Menuntut ilmu adalah hal pertama dan paling utama dalam kehidupan ini. Agar aktivitas menuntut ilmu kita sempurna, kita semua butuh guru.
Kata orang guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Maksudnya adalah guru menjadi pahlawan yang seringkali dilupakan oleh kebanyakan orang yang tak belajar atau tak mengambil pelajaran. Sehingga julukan pahlawan tanpa tanda jasa cocok untuk sang guru. Julukan itu akan selalu ada selama masih ada manusia yang tidak memiliki kesadaran akan pentingnya proses belajar atau proses dari menutut ilmu. Selama itu pula guru akan dijadikan pahlawan tanpa tanda jasa. Selama itu pula guru adalah pahlawan yang berbeda dengan para pahlawan zaman kemerdekaan Indonesia, yang namanya diabadikan dimana-mana, bertanda jasa, dan akan selalu dikenang atau setidaknya diberikan ‘heningan cipta’ pada setiap seremonial upacara Sekolah Dasar. Namun, perlu ku tegaskan, aku sangat membanggakan jasamu wahai guruku, terima kasih.
Kembali lagi pada kata “pengalaman” yang dapat menjelma bagaikan guru bagiku. Ya, bagiku pepatah di awal tulisan ini adalah benar dan aku setuju dengan kesimpulan ini. pengalaman dapat memberikan kita rasa atau emosi yang membuat keyakinan kita menguat akan sebuah teori. Pengalaman juga dapat memberikan kita pandangan baru atas sebuah kejadian. Dan ini hanya berlaku untuk kamu yang belajar bersama pengalaman atau mebgambil pelajaran dari sebuah pengalaman hidupmu. Itulah mengapa Tuhanku selalu menciptakan segala sesuatu tiada yang sia-sia, pastinya ada sebuah bahkan lebih alasan dari satu penciptaan. Pastinya ada sebuah bahkan lebih hikmah dari sebuah penciptaan. Kalau boleh pengalaman ku samaartikan sebagai salah satu penciptaan Tuhan, maka kita semua sepakat akan berharganya sebuah pengalaman hidup. Lantas aku bertanya kepadamu, seberapabanyakkah pengalaman hidupmu, kawan?

Kamis, 26 Desember 2013

Timbang Benar Resikonya

Opini hanya saya ini satu intinya, ingin mengkritisi anak-anak muda. Saya juga masih tergolong anak muda, dan saya pun layak mengingat benar isi dari tulisan opini ini.
Salah satu ciri khas anak muda adalah keinginannya yang sangat besar, baik keinginan untuk menggapai sesuatu maupun keinginan untuk mencoba-coba sesuatu yang baru. Semua anak muda mengalami hal ini, atau dari segi negatifnya dapat sedikit meleset menjadi keingina yg terlalu menggebu-gebu. Satu sisi bertindak demikian sangat lah bagus, memiliki obsesi yg besar untuk mencapai suatu hal ata tujua tertentu. Semisalnya, anak muda yg ingin mempunyai band yg dapat terkenal dan sukses dengan ini. Si anak muda akan banyak memfokuskan segala pikiran dan usahanya untuk terus berlatih, berkumpul bersama teman satu band, dan sangat bersemangat. Akibatnya, si ana muda hanya merasa hidupnya adalah fokus untuk satu tujuan itu, segala hal yg menghambatnya dpt saja dia singkirkan dengan segera. Mungkin jika dibenturkan dengan jadwal belajar, maka dia akan mentolerasi jadwal belajarnya semata-mata untuk berlatih band. Begitu sedikit contohnya.
Padahal, masih sanga banyak apa-apa yg harus kita pikirkan, terutama resiko setiap apa yg aka kita jalani. Jangan sampai apa yg sudah kita jalani/tekuni slm ini blm sepenuhnya atau bahkan blm sama sekali kita tahu resikonya untuk diri kita depan seperti apa, untuk keluarga, teman2 kita seperti apa???
Mungkin anak muda juga masih minim sekali pengalaman. Karena sadar atau tidak pengalaman memeng guru yg mujarab bagi hidup kita, dengan pengalaman kita meresakan/melakukan langsung setiap resiko yg kita terima dari sebuah aktivitas. Semisal, kalau kita belajar mengendarai motor di jalan aspal maka kita akan tahu bagaimana licinnya jalan aspal saat berkendara ketika hujan, mudahnya berkendara dengan kecepatan yg tinggi. Sedangkan, pengalama yg berbeda akan dialami oleh orang yg belajar berkendara motor di jalan yang ditutup tanah serta bergelombang. Pengalaman yg didapatkan adl pengalaman menghindari lubang2 sambil motornya berjalan, melintasi jalan lumpur yg licin saat hujan dan setelahnya, dan berkendara dengan hati-hati. Jelas dua pengalaman yg berbeda dengan resiko yg berbeda pula. Dari contoh sederhana itu penulis ingin menggambarkan bahwa satu kegiatan yg sama bisa menimbulkan atau memiliki berbagai resiko. Bijak sekali bila ada anak muda yg matang timbang-menimbang resiko tiap keputusan yg ia buat.
Penulis mengajak semua pembaca untuk lebih gemar lagi mengembangkan diri (meningkatkan kapasitas dan memperbarui kapabilitas). Terkhusus anak-anak muda sekalian, kita tinggalkan saja sifat pemuda konvensional yg amat melekat, sangat dinamis dan penuh keinginan kuat, namun sedikit yg banyak melihat/menimbang setiap resikonya. Kita kombinasikan keinginan yg menggebu dengan matangnya pertimbangan kita akan setiap resiko, agar slalu dapat kita mengoreksi diri dari setiap tujuan-tujuan yg tdk tercapai dan kesalahan-kesalahan yg kita buat.
Selamat berjuang wahai anak muda :)

Dahulukan Kewajiban daripada Hak yang Kita Punya

Menulis ternyata memiliki tingkat kelancaran yg berbeda-beda, tergantung situasi dan kondisi. Ide segar lebih mudah ditulis daripada ide yg telah ditumpuk sampai beberapa waktu, itu pendapat pribadi saya. Ada yg sependapat? So, just mengingatkan untuk para hobbies menulis, untuk sama-sama lebih rajin dan giat lagi dlm berbagi lewat tulisan.
Judul yg saya tulis insya Allah sudah sangat jelas menggambarkan apa isi dari tulisan ini. Subuah fenomena sosial sederhana saya dapatkan ketika saya sedang naik motor berboncengan dengan seorang kakak tingkat (senior) disebuah perkebunan kelapa sawit di daerah Kec.Talisayan, Kab.Berau Provinsi Kalimantan Timur. Melalui sebuah pertanyaan singkat yg saya tanyakan kepada beliau, “Pak, karyawan-karyawan disini ko kebanykan berasal dari daerah Sulawesi dan Flores ya pak? Apakah semua perkebunan di Kaltim seperti itu? Tapi, kebanyakan yg menajdi staf dan setara dengan staf itu adalah orang-orang jawa? Hehehe” Bukan karena saya orang Jawa lantas saya berargumen begitu ya, akan tetapi memang kenyataan ini begitu adanya. Sering kali saya dapati orang-orang yg berasal dari Jawa dipercayakan pd posisi pemimpin atau pimpinan dlm sebuah perusahaan atau lembaga sekelas itu. Nah, jawab beliau (senior saya) menurut saya sangat filosofis untuk menyanggah argumen dr pertanyaan saya. “Karena orang Jawa itu punya sifat ‘nrimo’ sehingga mereka (orang Jawa) kebanyakan akan lebih mendahulukan melaksanakan kewajibannya daripada menuntuk haknya” begitu kurang dan lebih jawaban dari beliau. Filosofis kan?! Dimana letak perbedaannya? Anda benar. Ada satu NILAI yg menjadi pembeda seseorang dalam sebuah posisi di tempat kerja atau di mata masyarakat untuk lebih dipercaya. Bukan karena sebuah materi (uang/harta) yg lebih banyak, bukan karena lebih terkenal atau populer drpada yg lainnya, dan bukan pula karena yang satu lebih kuat secara fisik daripada yg lainnya, yg membedakan kedudukan seseorang di mata masyarakat dan secara culture. Akan tetapi ada perbedaan NILAI yg dimiliki seseorang bernama sifat ‘nrimo’ yg identik melekat pd mayoritas orang bersuku Jawa dlm karakternya yg dipercaya menduduki sebuah posisi pemimpin/pimpinan.
Mengesankan bukan, hal yg kadang kita pribadi anggap remeh, ternyata dapat mengambil perhatian yg cukup besar agar kita berinstrospeksi diri. Itulah kekuatan sebuah NILAI tambah. Saya rasa, kita semua adalah manusia yg Allah ciptakan memiliki kemampuan untuk belajar agar dpat menjadi lebih baik atau senantiatiasa melakukan perubahan yg diiringi dengan perbaikan. Jadi, belum ada kata terlambat untuk berubah dan berbenah. Tak ada sedikit mencuri budaya atau karakter suku Jawa yg bukan suku kita untuk menjadi lebih baik, bukan?! Krn saat ini kita sudah masuk ke era keterbukaan. Sepakat dengan saya? Hehehe
Banyak hikmah yg dapat kita petik dari opini saya ini. Slain nilai yg saya bahas disini, saya rasa contoh kasus yg saya gambarkan disini dapat digunakan pula untuk membahas nilai-nilai yg lain. Intinya, Allah pun menegaskan bahwa Dia akan meninggikan derajat seseorang beberapa derajat bagi orang-orang yang berilmu. Salah satu makna orang-orang yg berilmu itu adalah orang yang mau belajar dan mau mengambil pelajaran dari sesuatu yg ia alami atau peroleh dan menjadikannya life experience yg dapat memperbaiki kualitas diri dan hidupnya secara tidak langsung.
Selam sejahtera untuk semua suku yang ada di Indonesia. Saya yakin setiap kita itu punya sesuatu yg baik yg dapat kita ambil untuk dipelajari dan juga keburukan yg dpt pula kita ambil menjadi pelajaran agar tdk terulang.
Jangan pernah berhenti untuk brelajar. :)

Terima Kasih

Berau, 26 Februari 2013. Pukul 17.31 WITA
Saya beri judul ini “terima kasih” karena isinya akan mengungkapkan betapa berharganya dua kata yang sederhana ini. Ini pengalaman pribadi saya, karena berkesan dan menurut saya ada hikmah yang dapat dipetik yang insya Allah bermanfaat bila dibagikan ke para pembaca.
Peristiwa ini saya alami siang tadi, selepas saya bekerja membantu karyawan sensus OPT (Organisme Penganggu Tanaman) kelapa sawit yang merupakan salah satu rangkaian kegiatan magang saya selama empat bulan di Berau. Saya sedikit bercerita mengenai pekerjaan sensu ini, hari ini saya dan tim sensus kebagian untuk melakukan sensus ulat api. Salah satu hama yang dominan menyerang daun-daun muda tanaman kelapa sawit adalah ulat api ini. Jangan sekali-kali kamu ceroboh memegang ulat ini, karena badannya yang berbulu bila tersentuh kulit manusia rasanya akan seperti terbakar api, walau kelihatannya ulat ini lucu : ).
Oke back to the track. Pekerjaan memang belum selesai, kami tinggal membuat peta penyebaran ulat api yang sudah disensus pagi ini. Sambil menunggu para anggota tim berkumpul, saya makan siang dan setelah selesai saya pegi keluar untuk mencari minuman di warung jajan perumahan karyawan. Sambil berjalan menuju warung saya melihat dua orang anak kecil sedang bermain pancingan di tepi selokan yang airnya jernih mengalir. Kedua anak itu asik sekali bermainnya. Melintaslah saya di samping anak tersebut dan dengan sengaja saya bertanya dimana letak warung di sekitar sini? Sebenarnya saya sudah tahu dimana letak warungnya, tapi saya sengaja ingin kenal dan menyapa anak-anak yang bagi saya sangat lucu dan lugu itu. Hehehehe. Di beritahukanlah saya lokasi warungnya dan sayapun bergegas kesana. Belum jauh saya berjalan salah seorang anak tersebut memanggil saya dan berkata (sedikit berteriak) “Om, bagi uang dong?”, entah apa yang ada dipikiran anak itu? Apakah saya terlihat seperti orang yang berduit? Heheheh. Sentak saya jawab “Ndak ada” sambil saya menunjuk ke arah selokan air dan berkata “Tu, ada disana uangnya kamu pancing saja” dan meraka pun tertawa. “ehhehheh”.
Satu botol minuman dan 15 buah permen saya beli dan saya kembali untuk mengerjakan pekerjaan yang belum selesai dengan segera. Entah ada apa di benak saya langsung mengagas untuk memberikan empat buah permen yang saya beli kepada kedua anak tadi, “Sini, ini ada permen, kalian bagi ya” mereka pun menerimanya dengan riang, yang ada di pandangan saya kala itu adalah mereka begitu senang dengan permen yang tidak seberapa harganya itu. Mereka langsung memamerkan kepada temannya yang lain yang ketika itu ada berdekatan dengan kami. Sambil bergegas saya mangatakan pelan kepada salah satu anak “bilang apa?” dia terbingung, dan spontan menjawab sambil tersipu “Terima kasih om” hehheheh wuuuh. Seakan ada angin bahagia merasuk dalam hati saya. Haru dan membekas kala anak yang tidak saya kenal itu bersikap santun seperti itu. Saya pun bergegas, dan dari kejauhan saya sedikit mendengar mereka berdialog dan kedua anak itu pun berteriak memanggil saya lagi dan berkata “Om, terima kasih”. Saya balik tersipu.
Ungkapan sederhana yang dapat membekas dalam hati kita. peristiwa ini ibarat cermin bagi saya, ketika saya diperlakukan sepeti ini maka hati saya tidak bisa berbohong bahwa saya menyukai dua kata itu apabila orang lain mengatakannya kepada saya. Dan ini dapat kita ambil hikmahnya agar sepatutnya kita pun memperlakukan orang lain, apalagi yang telah berkorban untuk kita dengan baik pula, minimal sekali dengan memberikan penghargaan sederhana baginya dengan dua kata penuh ketulusan “TERIMA KASIH” : )